Blogroll

PERKUSI JIMBE

Senin, 27 November 2017






Djembe atau jenbe/jyembe/jembe/jimbay/jimbe/sanbanyi merupakan warisan budaya yang berasal dari daerah Afrika. Asal usul djembe berasal dari kerajaan Mali sekitar abad 12. Dari semua alat musik pukul Afrika yang paling terkenal adalah djembe dan mengilhami pembuatan drum di seluruh dunia. Asal mula ejaan “jembe” berasan dari huruf “dj” yang merupakan simbol untuk mengingat bahwa bangsa Afrika dulu pernah dijajah oleh Perancis.


Kata djembe berasal dari kata “dyembe” yang merupakan kata dari suku Mali. Menurut bangsa Mali djembe berasal dari kata “Anke dje” yang artinya semua orang berkumpul bersama-sama. Karena orang perancis terbiasa dengan menggunakan huruf J, maka lebih sering menggunakan kata djembe. Konon huruf J ini sebagai symbol untuk mengingat sakitnya dijajah oleh Perancis.



Djembe merupakan sebuah kayu yang berbentuk gelas dan ditutup oleh kulit yang diikat dengan tali untuk mengencangkannya. Pada jaman dahulu djembe digunakan sebagai alat komunikasi antara desa satu dengan desa yang lainnya. Mengingat pada masa itu jarak antara desa satu dengan yang lainnya sangat jauh. Pada perkembangannya jimbe digunakan untuk perlengkapan upacara-upacara tradisional masyarakat Afrika.



Menurut kepercayaan orang Afrika terdapat 3 kekuatan roh di dalamnya. Yang pertama  adalah roh dari kayu atau pohon yang menggambarkan kekuatan, ketegasan, penopang dan pelindung. Yang kedua adalah roh dari hewan atau kulit yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan. Dan yang terakhir adalah pembuat djembe itu sendiri yang menggambarkan semangat dari pembuatnya.



Ada kesepakatan umum bahwa asal mula djembe dikaitkandengan kasta Mandinka dari pandai besi, yang dikenal sebagai Numu. Penyebaran luas dari drum djembe seluruh Afrika Baratmungkin karena migrasi Numu selama milenium pertama Masehi.



Meskipun asosiasi dari djembe dengan Numu itu, tidak ada pembatasan keturunan pada siapa yang dapat menjadi djembefola(harfiah, “satu yang memainkan djembe ”). Hal ini berbeda dengan instrumen yang penggunaannya dicadangkan untuk anggota kastagriot, seperti balafon, kora, dan Ngoni (djembe bukanlahinstrumen griot.) Siapapun yang bermain djembe. Adalahdjembefola-istilah tidak berarti tingkat tertentu keterampilan.



Secara geografis, distribusi tradisional djembe dikaitkan dengan Kekaisaran Mali, yang tanggal kembali ke 1230 AD dantermasuk bagian dari modern negara Guinea, Mali, Burkina Faso,Pantai Gading, dan Senegal. Namun, karena kurangnya catatan tertulis di negara-negara Afrika Barat, tidak jelas apakah djembemendahului atau lewat bulan Kekaisaran Mali. Tampaknya mungkin bahwa sejarah djembe mencapai kembali untuk setidaknyabeberapa abad, dan mungkin lebih dari satu milenium.





Berbentuk seperti sebuah gelas piala, Djembe terbuat dari kayu dan secara khas dilapisi dengan kulit kambing. Orang Bamana dari Mali, Afrika Barat menamakannya berdasarkan ucapan “Anke dje, anke be”, yang secara kesusastraan berarti“Setiap orang berkumpul bersama” dan mendefinisikan tujuan dari drum.

Bentuk dari Djembe “diukir” oleh berang-berang Afrika yang secara khusus dilatih untuk hanya mengonsumsi bagian tengah dari kayu pohon keras. Umumnya alat musik Djembe diproduksi di Guinea, Senegal, Mali dan Cote d’Ivoire. Sebuah djembe memiliki bagian dalam yang kasar dengan rentetan lubang, yang membuat perbedaan untuk kualitas penggunaan gaya suara. Ia dimainkan dengan tangan kosong menggunakan beragam pukulan telapak tangan. Nada utamanya adalah bass (nada rendah), tone (nada tengah), dan slap (nada tinggi).

Salah satu yang unik dari jimbe adalah dalam pola-pola ritme permainannya, ada yang konstan, ada yang ditabuh hingga bergemuruh, berbunyi tajam, bahkan dapat berbunyi sangat treble dan gaduh yang seolah-olah dapat membangkitkan energi spiritual dari ritual-ritual primitif masa lalu.
Menurut salah seorang penelti alat musik, jimbe adalah hasil kreasi orang di Sierra Leone, Afrika. Cikal bakal jimbe adalah Sangba dan memang benar dari tempat alat musik ini berasal ternyata penyebarannya tidak menyeluruh di benua Afrika. Ada banyak nama untuk alat musik berjenis seperti ini, di antaranya sangba, yimbei, jimberu, bata, tapoi dan lainnya. Masing-masing dari alat musik ini dimainkan oleh kelompok-kelompok, orang-orang ataupun suku-suku yang berbeda pula. Di daerah Mali misalnya, jimbe dipergunakan hanya pada malam hari untuk berbagai perayaan, misalnya menyambut bulan purnama, datangnya musim semi, musim panas, musim panen, musim dingin, perkawinan, pembaptisan dan lain sebagainya.

Pola-pola ritme dalam memainkannya pun memiliki nama-nama tersendiri. Antara lain : Djagbe, Yangkadi-Makru, Marakadon, Mendjani, Moribayasa, Kasa, Garangedon. Selain di Mali alat musik perkusi sejenis jimbe juga ditemukan di Senegal, Guinee, Gambia, Ivory Coast dan wilayah lain khususnya di Afrika Barat. Dan mereka yang membudayakan di namakan Kasta Griot yaitu kasta penjaga kebudayaan musik yang utama, selain kasta pandai besi.


Konon nama djembe diambil dari pohon djem yang banyak ditemukan di Mali, Afrika. Pohon Djem adalah merupakan bahan dasar untuk membuat Djembe, setelah pohon ditebang batang pohon tersebut dibentuk menyerupai piala, lantas dilubangi, dan diukir sedemikian rupa. Konon menebang pohonnya pun dibarengi dengan ritual khusus dan tentunya menggunakan  kayu dari pohon djem pilihan. Membran sebagai sumber bunyinya bisa menggunakan kulit kambing, kerbau ataupun antelop. Teknik merenggangkannya pun khusus, setelah melalui proses pengeringan yang cukup membran atau kulit tersebut diikatkan kencang dengan tali di selingkar badan kayunya. Di Amerika, Belgia, Jerman, Perancis dan di beberapa negara lainnya terdapat sekolah djembe, yang mendatangkan guru-guru langsung dari negara asalnya. Semoga Indonesia sudah ada sekolah jimbe,  di karenakan aktifitas “djembe fola” telah menyebar di pelosok negeri ini.

0 komentar: