Blogroll

Mengenal Bob Marley Lebih Dekat

Senin, 02 Juni 2014

Bicara Bob Marley harus bicara Reggae! Bicara Reggae harus bicara Mariyuana! Bicara Mariyuana harus bicara Jamaika! Bicara Jamaika harus bicara merah, kuning, hijau! Obrolan inilah yang sering saya tangkap sebagai penulis ketika berdiskusi ataupun berdialog tentang tokoh musik satu ini yang kita panggil Bob Marley.

Dah tahu belum friends? ternyata dikalangan para Rastafarian Indonesia, nama Bob Marley sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Bahkan, Bob Marley sendiri seolah-olah menjadi kakek moyangnya para Rastafarian itu. Hal ini terlihat dengan style yang mereka punya seperti penampilan rambut mayoritasnya bergimbal, memakai mariyuana sebagai teman hidup yang sejati, atribute merah, kuning, hijau sebagai warna kehidupannya, dll. Begitupun juga dengan almbumnya kawan, bisa dikatakan mereka sudah diluar kepala untuk menyanyikannya lagu-lagu Bob Marley dalam satu album. Karena memang, lagu Bob Marleylah yang menjadi panduan hidupnya para Rastafarian yang ada di Indonesia, hebat yah.

Di Jamaika, Bob sendiri mendalami spiritualitas Rastafari yang mengajarkan pembebasan diri dari ketertindasan tanpa dengan kekerasan. Akhirnya, musiklah yang menjadi pilihan Bob untuk menuangkan ajaran itu. Dengan petikan gitarnya yang khas, musiknya semakin berkarakter yang kita sebut sebagai Reggae. Banyak orang berpendapat musik Bob telah menjadi bahasa universal karena bicara kehidupan, kemanusiaan, pembelaan terhadap kaum tertindas yang menjadi inspirasi di belahan dunia. Adalah Island Record, Inggris yang berperan menyebarkan gagasan-gagasan Bob keluar Jamaica hingga menjadi demam di Eropa.

Pada saat itu debut Bob dimulai bersamaan demam musik anak-anak muda seusianya seiring dengan eforia kemerdekaan Jamaika, sebuah negara pulau di Laut Karibia (bagian tengah benua Amerika), dari penjajahan Inggris pada tahun 1962. Di tahun itu Bob pertama kali merekam suaranya dalam lagu berjudul Judge Not. Di tahun itu pula, Bob bertemu anak muda lain yang punya ambisi musik, yaitu Neville O"Riley Livingston (Bunny Wailer) dan Peter McIntosh (Peter Tosh) dan membentuk band bernama The Wailing Wailers. Single pertama The Wailing Wailers, Simmer Down (1963). Di masa-masa awal itu musik Bob bercorak Ska, sebuah ritme asli Jamaica yang saat itu menjadi musik dominan di Jamaica. Sejak pertama itu pula Bob membuat lagu yang syairnya berisi ungkapan kiritik terhadap penguasa Kolonial.

Bagi yang baru mendengarnya, musik Reggae Bob sering dianggap musik kelas bawah yang tidak berkelas, layaknya musik dangdut di Indonesia. Bukan itu saja friends, pribadi Bob Marley sendiri sebagai musisi sering disinisi sebagai "peracau" yang cuma bermimpi dibuai asap mariyuana, oh my god!. Tapi dibalik itu semua, Bob mengabarkan tentang kehidupan lewat musiknya yang berbicara penindasan, kemanusiaan, untuk menjadikan dunia yang lebih baik. Semuanya itu Bob catat apa yang memang dia rasakan dan dia lihat terhadap kehidupannya di Jamaika, lalu kemudian dijadikanlah sebuah syair lagu. Hal inilah yang menjadikan Bob dikenal juga sebagai tokoh yang humanis, karena kecintaanya terhadap Jamaika. Bagi dia Jamaika adalah representasi orang kulit hitam yang diterpa kemiskinan dan penindasan di seluruh dunia. Karenanya ia merasa harus selalu menjadi bagiannya untuk terus mewartakan serta memperjuangkannya ke seluruh dunia.

Sayangnya Bob harus meniggalkan kita semua friends termasuk kemanusiaan dan penindasan. Pada tanggal 21 Mei 1981 Bob meninggal dunia karena menderita penyakit melanoma yaitu, sebuah penyakit kelainan gen yang diduga turunan dari ayahnya dari orang kulit putih yang bernama Captain Norval Marley. Dan penyakit kanker kulit yang telah dideteksi 3 tahun sebelumnya sudah menyebar ke paru-paru dan otaknya. Dokter pun menduga umur Bob tidak akan bertahan lama. Dan akhirnya berakhirlah Bob Marley untuk menghembuskan nafasnya di dunia. Pemakamannya dilangsungkan di Jamaika beserta ribuan pecintanya.

Biar bagaimanapun Bob Marley tetaplah Bob Marley, ya ga?. Dia adalah satu diantara tokoh kemanusiaan ataupun musisi yang semasa hidupnya banyak membantu orang yang tertindas khususnya di Jamaika. Dirinya sudah mati tetapi karya dan gagasannya tidak akan pernah mati sampai kapanpun, begitulah banyak orang mengatakannya.Tak jarang banyak musisi ataupun para tokoh dunia sering menjadikan Bob Marley sebagai icon yang sering menjadi bahan perbincangan tentang kemanusiaan ataupun musik. Sampai para generasi muda pun yang ada di Indonesia, Bob Marley menjadi sosok “peace & love” yang harus dilestarikan selalu, ok ga friends?


Selamat tinggal Bob Marley! Selamat tinggal kakek moyang Reggae! Nama, karya, dan jasamu akan dikenang selalu oleh banyak orang. (Rumah Musik Jakarta)

0 komentar: